iklan

Monday, November 25, 2013

Solo, Salah Satu Denyut Nadi Pulau Jawa, Spirit Of Java




Solo, Sala, atau Surakarta, adalah nama sebuah kota di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kota ini terletak pada jalur strategis, yaitu pertemuan jalur dari Semarang dan dari Yogyakarta menuju Surabaya dan Bali. Wilayah di sekitar kota ini juga sering pula disebut sebagai Surakarta, yaitu bekas wilayah Keresidenan, pada awal masa Republik.



Latar belakang sejarah
Kota Surakarta berdiri tahun 1745. Kota ini pernah menjadi pusat pemerintahan pada masa akhir Kesultanan Mataram. Setelah perpecahan Mataram, Surakarta menjadi pusat pemerintahan Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunagaran. Kedua pusat feodalisme Jawa ini memiliki keterkaitan dengan Majapahit, karena dinasti Mataram merupakan keturunan dari raja-raja Kesultanan Demak, yang juga merupakan penerus suksesi dinasti Wijaya, sang pendiri Majapahit.
Dalam perkembangannya, Solo menjadi kota dagang penting (di Solo berdiri Syarikat Dagang Islam pada tahun 1905), kota wisata (dijuluki "kota pelesir", dengan konotasi agak negatif), dan kota budaya. Bangunan bersejarah, produk kesenian, makanan khas, serta hiburan mudah dijumpai di tempat ini dan di titik-titik di sekitar kota ini.
Wisata Budaya

Keraton Surakarta atau lengkapnya dalam bahasa Jawa disebut Karaton Surakarta Hadiningrat adalah istana Kasunanan Surakarta. Keraton ini didirikan oleh Susuhunan Pakubuwono II (Sunan PB II) pada tahun 1744 sebagai pengganti Istana/Keraton Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan1743.
Setelah resmi istana Kerajaan Mataram selesai dibangun, nama desa itu diubah menjadi Surakarta Hadiningrat. Istana ini pula menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kerajaan Mataram oleh Sunan PB II kepada VOC pada tahun1749. Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, keraton ini kemudian dijadikan istana resmi bagi Kasunanan Surakarta. Kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sunan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kerajaan hingga saat ini. Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata di Kota Solo. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kasunanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa tradisional yang terbaik.

·         Istana Mangkunagaran


Istana Mangkunegaran berlokasi di Kota Surakarta di jalan Ronggowarsito dan bangunan menghadap ke Selatan. Sebagai kerajaan yang terbuka dengan ide ide baru perjumpaan Kebudayaan jawa dengan Eropa dicermati dengan seksama dan di akulturasikan menjadi milik Jawa. Akulturasi ini diinkulturasi sampai unsur dan elemen Eropa menjadi semakin Jawa.
Istana Mangkunegaran berdiri sejak tahun 1757 dan pada waktu awal mula berdiri komplek istana belum dilengkapi dengan Pendapa. Bangunan Pendapa dengan atap Joglo baru dibangun pada masa pemerintahan Mangkunegara IV yakni tahun 1866. Surakarta yang kental dengan kebiasaan kebiasaan Jawa mengadopsi style Eropa yang dijadikannya menjadi Jawa tampil dalam hal pembangunan fisik.
Bangunan Jawa secara prinsipial tidak mengenal adanya teras atau elemen serambi karena elemen ini merupakan ke khas an dari villa villa diEropa.Bangunan Jawa yang tanpa mengenal serambi ini dipadukan dengan elemen Eropa secara visual dan fungsional menghadirkan keindahan dan kegunaan terwariskan secara tradisi kegenerasi berikutnya.Aliran klasik dan neoklasik Eropa berpadu dengan semangat neoklasik Jawa menghadirkan pengolahan tata ruang yang secara simbolik menampilkan citra dan kegunaan aktivitas beserta ornamen dan pahatan sebagai simbolik.
Dari visualisasi bangunan, Istana Mangkunegaran mengambil corak Eropa dalam Empire Style dalam perpaduan Jawa yang menghadirkan kemaharajaan dengan keagungan dan kewibawaannya. Perpaduan antara Arsitektur Jawa dan Arsitektur Eropa terserap di Mangkunegaran yang memang terbuka untuk inovasi dan ide ide yang baru. Sistem denah menghadirkan suatu pola tatanan ruang yang tertutup dan bersifat linear. Pada kondisi struktur bangunan tampak bahwa antara atap dan dinding merupakan satu kesatuan utuh struktur dengan kata lain sistem struktur bangunan Istana menggunakan sistem strutur dinding pemikul.Penggunaan kolom kolom bulat yang terbuat dari besi tuang (cor) dengan konsol konsol besi semakin menampakan perpaduan Jawa dengan neoklasik Eropa dalam penampilannya.
Ciri utama peningalan Eropa di jawa dalam soal bangunan juga terdapat pada keluasan bidang bukaan jendela dan pintu serta skala ruang yang luas dan tinggi.Aspek keluasan ini pada intinya adalah pengolahan aspek kenyamanan penghuni dalam aktivitasnya sehari hari yang hadir di bumi beriklim tropis.

·         Kampung Wisata Batik Laweyan

Kawasan sentra industri batik ini sudah ada sejak zaman kerajaan Pajang tahun 1546 M. Seni batik tradisional yang dulu banyak didominasi oleh para juragan batik sebagai pemilik usaha batik, sampai sekarang masih terus ditekuni masyarakat Laweyan sampai sekarang. Sebagai langkah strategis untuk melestarikan seni batik, Kampung Laweyan didesain sebagai kampung batik terpadu, memanfaatkan lahan seluas kurang lebih 24 ha yang terdiri dari 3 blok.
Di antara ratusan motif batik yang dapat ditemukan di Kampung Batik Laweyan, jarik dengan motif Tirto Tejo dan Truntum jadi ciri khan Batik Laweyan. Kampung Batik Laweyan ditujukan untuk menciptakan suasana wisata dengan konsep utama "Rumahku adatah Galeriku". Artinya rumah memiliki fungsi ganda sebagai showroom sekaligus rumah produksi.



Taman Sriwedari dan Segaran dibangun oleh Paku Buwono X yang merupakan adik ipar KRMT Wirjodiningrat. KRMT Wirjodiningrat membeli tanah Sriwedari dari seorang Belanda bernama Johannes Buselar pada 1877 dengan status tanah RVE (hak milik). Status kepemilikan tanah didaftarkan kembali status hak guna bangunan (HGB) 22 karena baru didaftarkan tahun 1965.
Taman Sriwedari adalah sebuah kompleks taman di Kecamatan Lawiyan, Kota Surakarta. Sejak era Pakubuwana X. Taman Sriwedari menjadi tempat diselenggarakannya tradisi hiburan Malam Selikuran. Sriwedari juga pernah menjadi lokasi penyelenggaraan PON Ipada tahun 1948

·         Pasar Klewer (Pasar Batik terbesar di Indonesia)
Menurut cerita, jaman penjajahan dulu Pasar Klewer berfungsi sebagai tempat pemberhentian kereta. Masyarakat pun memanfaatkannya sebagai tempat untuk menjual berbagai macam produk kepada para penumpang hingga akhirnya terkenal dengan nama Pasar Slompretan. Kata slompretan berasal dari slompret (terompet) karena suara kereta yang akan berangkat mirip dengan suara terompet ditiup. Pasar Slompretan ini juga dijejali dengan pedagang kecil yang menjual tekstil khususnya batik. Para pedagang ini menjajakan batiknya dengan cara dipanggul di pundak, sehingga batiknya terlihat berkleweran atau berjuntaian. Seiring dengan perjalanannya, pasar ini kemudian lebih terkenal dengan nama Pasar Klewer.
Pada tahun 1970an, pasar ini dibangun menjadi sebuah bangunan permanen berlantai dua yang cukup luas. Pembeli juga akan lebih leluasa berbelanja karena pasar dengan lebih dari dua ribu unit kios ini memiliki tangga-tangga yang cukup luas sehingga tidak ada kesan berdesak-desakan.
Menyusuri lorong-lorong yang cukup lebar dari satu blok ke blok yang lainnya, beragam jenis pakaian berbahan batik seolah memanggil pengunjung untuk membelinya. Mulai dari jenis kebaya, kain, baju resmi, hingga kaos batik, daster, blouse cantik dan pakaian anak-anak. Tak hanya batik Solo, pasar ini juga memiliki koleksi batik Banyumas, Pekalongan, Madura, Yogyakarta, dan lain-lain. Anda dapat dengan mudah menemukan batik cap seharga belasan ribu maupun batik tulis kualitas terbaik dengan harga lebih murah dari pada butik-butik terkenal. Kemahiran menawar akan sangat membantu mendapatkan harga terbaik. Tak hanya dijual eceran, kebanyakan kios juga melayani pembelian grosir dengan harga yang jauh lebih murah.
Naik ke lantai dua, Anda akan menemukan aneka jenis tekstil, seperti seragam sekolah, kaos, jaket, dasi, kain bahan katun hingga sutra. Uniknya, di pasar ini juga terdapat beberapa orang penjahit yang siap menyulap kain yang baru saja Anda beli menjadi jenis pakaian yang Anda inginkan dalam waktu kurang dari satu hari.
Lelah berbelanja mengelilingi pasar tekstil ini. Berbagai warung makanan siap menjadi tempat melepas lelah sekaligus mencicipi aneka makanan khas Solo. Nasi pecel, nasi liwet, tengkleng, timlo, es dawet, es gempol dan berbagai jenis makanan dan minuman lainnya siap menjadi penawar dahaga Anda.


Wisata kuliner
Solo mempunyai tempat makan yang enak dan murah, bahkan kota ini sudah mendapat sebutan kota kuliner. Aneka makanan baik yang modern maupun tradisional tersedia di kota Solo.
Dapat ditemukan tempat makan yang enak
·         Nasi liwet keprabon
Siapa yang tidak kenal makanan khas Solo yang satu ini. Ya, kalo ke Solo harus merasakan nasi liwet. Nasi liwet adalah nasi gurih yang dimasak dengan kelapa (santan) rasanya mirip sama nasi uduk , yang disajikan dengan sayur labu siam, suwiran ayam (daging ayam dipotong kecildan areh (semacam bubur gurih dari kelapa). Salah satu tempat makan nasi liwet favorit saya di daerah Keprabon. Di daerah ini banyak sekali warung-warung nasi liwet yang terkenal enak, salah satunya yaitu Nasi Liwet Bu Wongso Lemu, namun hampir semua warung disini banyak yang memakai nama Bu Lemu. Karena bingung dengan banyaknya warung nasi liwet di daerah Keprabon ini saya memilih warung pertama yang tepatnya berada di kiri jalan (perlu diingat jalan di Keprabon ini searah yaitu menuju ke Jl. Slamet Riyadi). Salah satu kekhasan dari nasi liwet adalah disantap pada malam hari, tidak heran warung-warung disekitar sini baru buka selepas magrib.
Memasuki warung ini saya disambut ramah oleh penjaganya, tempat untuk menyantap makan ada lesehan dan bangku kecil didepan penjualnya karena saya datang bersama 5 teman maka saya duduk lesehan supaya lebih leluasa. Saya memesan nasi liwet ayam suwir, porsinya tidak terlalu banyak. Untuk minumannya saya memesan Es Kacang Putih, isinya kacang putih yang direbus dengan kuah santan dan gula. Harga pastinya saya lupa karena ketika akan membayar kami tidak diberi detail harganya hanya disebutkan total harga untuk kami berlima sebanyak Rp 100.000,00 (atau sekitar 20rb/orang). Hati-hati bagi pendatang, karena beberapa teman saya yang asli Solo mengatakan kalo mereka suka seenak hati dalam memberikan harga. Oh iya, yang spesial ketika saya makan disini yaitu mendapat hiburan ibu-ibu berkebaya yang menyanyi gending jawa, makin terasa sekali suasanya jawanya :)

·         Timlo sastro, Pasar gedhe

Selain nasi liwet, selat Solo, tengkleng kambing, dan gudeg ceker, ada satu lagi makanan khas Solo yang harus anda coba, yakni timlo. Salah satu tempat terbaik untuk menjajal menu ini adalah Warung Timlo Sastro, sebuah warung timlo legendaris yang berlokasi di sekitar kompleks Pasar Gede Solo. Timlo adalah makanan sejenis sup dengan kuah kaldu bening yang gurih dan menyegarkan. Bedanya, isi timlo bukanlah sayuran tetapi potongan-potongan sosis Solo goreng, daging ayam, telur, dan jeroan. Ada juga versi lain yang turut menyertakan misoa dan jamur kuping dalam racikan timlo.
Sudah lebih dari 60 tahun Timlo Sastro menjajakan menu khas Solo ini, dan hingga kini pun penggemarnya masih banyak. Sejak tahun 1952, Pak Sastro merintis usaha di warung tenda kaki lima di sebelah barat pasar. Namun setelah renovasi, sejak 1958, Timlo Sastro berpindah di sudut belakang Pasar Gede. Sepeninggal Pak Sastro, usaha Timlo Sastro kini dikelola oleh anak-anaknya.
Keistimewaan Timlo Sastro terletak pada kuah kaldu ayamnya yang rasanya mantap dan isiannya yang cukup melimpah. Dalam satu porsi terdapat potongan-potongan hati-ampela ayam, sosis Solo goreng, ayam, dan telur pindang. Alhasil satu mangkuk Timlo Sastro terlihat begitu penuh isinya. Bumbu timlo sebenarnya sederhana saja, terdiri dari bawang putih, pala, dan lada, Untuk mempercantik rasa dan penampilan, di atas timlo ditambahkan taburan bawang merah goreng. Timlo ini terasa nikmat ketika disantap dengan nasi putih hangat yang disajikan terpisah. Jika suka pedas, anda bisa tambahkan sambal kecap ke dalam timlo. Manisnya kecap akan mengimbangi rasa kuah timlo yang sangat gurih. Suasana santap siang di Warung Timlo Sastro makin menyenangkan dengan adanya suguhan live music keroncong.
Jam buka: 06.30 – 15.30 WIB
Lokasi: Jalan Pasar Gede Timur No 1-2, Kota Solo, Jawa Tengah.
     Gambar :http://4.bp.blogspot.com/-tvBMOvktWiQ/T0WHy-O4CGI/AAAAAAAAAcc/tu-OYFZSldw/s1600/timlo+sastro+fotoku.jpg

·         Tengkleng
       Kalau Anda pecinta makanan ‘berbau’ kambing, Solo adalah surganya. Banyak warung yang khusus menawarkan olahan daging kambing, mulai dari sate, gule, hingga tongseng. Tapi ada satu menu yang tak boleh Anda lewatkan saat mampir ke Solo, yakni tengkleng. Konon, dulu tengkleng adalah makanan rakyat jelata yang tak mampu menikmati olahan daging kambing, seperti sate atau gule. Karena tengkleng sebenarnya adalah masakan yang diolah dari tulang belulang dan tengkorak kambing yang tak bisa dimasak menjadi sate atau gule. Tapi jangan salah, tengkleng jaman sekarang sudah naik pamornya, dan yang menikmatinya pun bukan lagi dari kalangan kere atau jelata.
Perjuangan mbrakoti atau menggerogoti tulang-tulang tengkleng ini menjadi sensasi tersendiri bagi para penikmatnya. Kesannya memang tidak ‘mriyayi’, tapi begitulah cara menikmati tengkleng. Kalau dapat sedikit daging yang menempel di tulang rasanya seperti mendapat berkah.
Salah satu warung yang khusus menawarkan menu tengkleng di Solo adalah warung tengkleng bu Edi. Warung ini terletak tepat di sisi utara gapura Pasar Klewer. Tidak ada papan nama atau sepanduk sebagai penanda, pokoknya asal dari jauh terlihat warung dengan antrian yang banyak, bisa dipastikan itu adalah warung tengkleng bu Edi. Jangan harap ada banyak meja dan kursi di warung ini, karena hanya disediakan satu meja ukuran sedang dan dua bangku panjang. Kebanyakan pengunjung memang memilih untuk membungkus tengkleng bu Edi untuk dibawa pulang, tapi tak jarang ada pula yang menikmatinya di tempat dengan ditemani riuh suasana Pasar Klewer.
Warung tengkleng bu Edi buka dari pukul 14.00 WIB, tapi kadang ada pembeli yang sudah antri sejak pukul 13.00 WIB. Hanya dalam waktu 2-3 jam, tengkleng di warung ini sudah ludes terjual. Harga per porsinya Rp 18.000, pengunjung juga bisa memilih bagian-bagian tertentu, seperti tulang iga, kaki, mata, kuping, lidah, pipi, sumsum, otak, dan lain-lain. Bagi sebagian orang yang tak terbiasa, memakan bagian-bagian tadi memang menyeramkan, tapi ya inilah tengkleng. Cobalah sedikit, kalau ketagihan ya tanggung sendiri akibatnya :)
Jika butuh tengkleng untuk hajatan, Anda juga bisa memesan tengkleng bu Edi melalui telepon di 0271-651552 atau datang langsung ke rumahnya di Jl. Yosodipuran RT 01/3 Solo, pesanan satu panci harganya mulai dari Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu.

·         Srabi Notosuman
Kalau boleh sedikit berlebihan, tak lengkap berkunjung ke Solo, kalau Anda tak mampir ke daerah Notosuman dan mencoba legitnya serabi Notosuman. Di daerah Notosuman ini kita bisa menemukan beberapa penjual serabi, konon mereka berasal dari satu keturunan yang sama, yaitu Hoo Gek Hok, yang merintis usaha ini sejak 1923. Salah satu yang terkenal di daerah Notosuman adalah serabi Ny. Handayani.
Serabi sebenarnya adalah semacam pancake yang adonannya terdiri dari tepung beras, santan, gula, garam, dan daun pandan sebagai pewangi. Teksturnya kenyal namun tetap lembut, dan rasanya sangat legit. Berbeda dengan kue serabi atau surabi di daerah lain, serabi khas Solo atau serabi Notosuman dihidangkan tanpa kuah manis.
Cara pembuatannya pun masih tradisional, adonan serabi dimasukkan ke dalam wajan kecil, lalu ditutup dengan penutup dari tanah liat supaya serabi mekar sempurna. Apinya berasal dari arang, cuma butuh waktu sekitar 3 menit, serabi pun matang. Menariknya, proses pembuatan serabi ini bisa disaksikan oleh pembeli.
Di daerah Notosuman ini, serabi yang ditawarkan hanya dua jenis, yakni serabi coklat dan polos (tanpa topping). Serabi coklat Rp 2.500, sedangkan serabi polos Rp 3.000.
Serabi Notosuman tidak memakai bahan pengawet sama sekali, dan bisa tahan selama 24 jam. Serabi Notosuman Ny. Handayani buka dari jam 05.00-19.00 WIB

Menuju ke Solo
Kota Surakarta terletak di pertemuan antara jalur selatan Jawa dan jalur Semarang-Madiun, yang menjadikan posisinya yang strategis sebagai kota transit. Jalur kereta api dari jalur utara dan jalur selatan Jawa juga terhubung di kota ini.
Jalur darat
Kota Solo dapat dicapai melalui darat, baik menggunakan kendaraan pribadi, bus atau kereta api.
Kendaraan pribadi
Kota Solo terhubung ke Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya dengan jalan negara. Ke depan telah direncanakan pembangunan jalan bebas hambatan (jalan tol) ke Semarang dan ke Yogyakarta. Selain itu jalan provinsi menghubungkan Solo dengan Purwodadi, Wonogiri, dan Tawangmangu/Sarangan.
Bus dan kendaraan umum jalan raya lain
Relasi bus Solo melayani ke hampir seluruh kota utama di Jawa, Bali, serta banyak kota di Sumatera. Terminal utama adalah Terminal Tirtonadi, terletak di bagian utara kota dan dekat dengan stasiun kereta api (berjarak sekitar 1km). Terdapat bus malam (ber-AC) yang menghubungkan Solo dari Jakarta, Bogor, Bandung, Banyuwangi, dan Denpasar. Terdapat pula hubungan bus jarak sangat jauh yang menghubungkan Solo dengan Bandarlampung, Palembang, Pekanbaru, Medan, Padang di sisi barat, dan dengan Mataram dan Bima di arah timur. Hubungan dengan Kalimantan dan Sulawesi dilakukan melalui kapal yang bersandar di Semarang atau Surabaya.
Hubungan ke Surabaya berlangsung 24 jam, baik bus langsam maupun Patas. Hubungan ke Purwokerto (lewat Yogyakarta) juga demikian, namun dengan frekuensi lebih jarang. Terdapat pula bus semi-Patas yang menghubungkan Solo dengan kota Malang, Jember, dan Banyuwangi. Hubungan bus ke Semarang dan ke Yogya dengan bus langsam berlangsung dari pukul 05.00 hingga 19.00, selebihnya tidak dilayani, kecuali dengan bus dari Surabaya menuju Yogya, atau kadang-kedang tersedia kendaraan tidak resmi omprengan. Solo terhubung pula dengan kota-kota kabupaten dan kecamatan dari Terminal Tirtonadi, seperti ke Purwodadi, Sragen, Tawangmangu, Matesih, Wonogiri, Pedan (Klaten), dan Simo (Boyolali). Terminal Kartasura juga dapat digunakan untuk mencapai sejumlah pedesaan. Jalur-jalur ini biasanya dilayani bus tua atau bus kecil.
Kereta api (KA)
Stasiun utama adalah Stasiun Solo Balapan. Dari setasiun ini praktis semua kota utama Jawa dapat dicapai dari Solo. Hubungan dengan Jakarta dilayani dengan kereta api kelas Eksekutif (kelas 1) Argo Dwipangga (dari stasiun Gambir berangkat malam) dan Argo Lawu(berangkat pagi) dengan biaya Rp 200 ribu dan waktu tempuh sekitar 8 jam. Kereta ini berhenti di Stasiun Tugu, Yogyakarta, dan Purwokerto sebelum sampai tujuan akhirnya di Solo. Kemudian Kelas Bisnis Senja Utamaberhenti di Stasiun Pasar Senen dan Lodaya (Bandung). Kereta komuter Prambanan Ekspres melayani hubungan dari Yogyakarta dengan waktu tempuh 45 menit. KA berangkat dari Yogya lima kali sehari (07.00, 10.00, 13.00, 16.00, dan 19.00). Selain itu terdapat KA komuter dari dan ke Semarang (KA Pandanwangi) dengan dua kali rit, tapi belum jelas jadwalnya.
Udara
Kota Surakarta memiliki fasilitas Bandara Internasional Adisumarmo yang dibangun dengan gaya Jawa yaitu Joglo dan ornamen Batik yang menghiasi setiap ruangannya. Dari Jakarta, hampir tiap maskapai penerbangan punya rute ke Surakarta, waktu tempuhnya 50 menit. Dari yang terletak di kawasan Panasan, Anda bisa naik taksi maupun Busway yaitu Batik Solo Trans 15 menit menuju ke pusat kota Surakarta. Maskapai penerbangan Garuda, Lion Air dan Sriwijaya air melayani penerbangan Jakarta-Solo PP, Silk Air untuk penerbangan Solo-Singapura PP, dan Air Asia untuk penerbangan Solo-Kuala Lumpur (Malaysia) di samping penerbangan langsung ke Mekkah/Jeddah, Arab Saudi dikarenakan Solo sebagai embarkasi haji untuk wilayah Jawa Tengah & DIY. Dari Solo seseorang bisa terbang ke seluruh kota -kota di Indonesia melalui kota Jakarta.
    Sumber :
  


No comments:

Post a Comment