iklan

Sunday, July 18, 2010

Belanda dan Ketakberadaban yang Dipilihnya

Belanda dan Ketakberadaban yang DipilihnyaBelanda dan Ketakberadaban yang Dipilihnya
Share
Wednesday, July 14, 2010 at 1:18pm

Meski saya bukan pendukung Spanyol, saya gembira dengan kekalahan Belanda di final, dua hari yang lalu. Meski ada sedikit denyar semangat di dada saya setiap Belanda mendapatkan peluang mencetak gol, saya gembira dengan keberhasilan Belanda mencetak hatt trick kegagalannya.

Ya, saya harus jujur, sejatinya, di pertandingan itu, ada suara lamat-lamat di kepala saya yang memanggil-manggil untuk menjatuhkan pilihan kepada Belanda. Jika ada seseorang yang memberikan vuvuzela kepada saya, meski dengan sedikit segan, ia akan saya tiup pelan-pelan untuk menyemangati lari Dirk Kuyt atau gecekan Robben. Bukan, bukan karena saya suka Belanda, tapi karena terlalu banyak orang yang mengunggulkan Spanyol, memuja-muja cara bermain mereka, tapi sama sekali tak menyinggung kalau mereka adalah tim paling membosankan di sepanjang turnamen, dan itu membuat saya tak menyukai mereka. Saya juga ada sedikit hati untuk Belanda karena saya berharap, ketika menghadapi Spanyol, mereka mampu menampilkan siapa sebenarnya mereka. Saya berharap, mereka muncul di final dengan gabungan permainan cantik dan kesuburan dalam mencetak gol, serupa dengan cara mereka bertanding pada pertandingan terakhir sebelum ke Afrika Selatan, saat menghancurkan Hungaria 6-1 di Rotterdam.

Tapi rupanya mereka memilih cara lain. Dan cara lain yang mereka tempuh itu, menurut saya, sangat layak untuk diganjar dengan kegagalan. Dan untuk itu, saya gembira.

De Jong memilih cara lain.


Belanda, sebagai bangsa, punya dua sisi yang berbeda. Mereka bangsa kecil saja di belahan barat Eropa yang sesak itu. Luasnya cuma 41, 5 ribu km2, yang di kawasan itu hanya lebih besar dari negeri-negeri liliput macam Luxemburg dan Lichtentine. Namun, jangan dikira besarnya arti Belanda bagi Eropa. Bangsa kecil inilah yang melahirkan, mulai dari Erasmus, Spinoza, Rembrant, hingga Van Gogh. Tapi, di sisi lain, bangsa mungil ini juga melahirkan nabi-nabi kegelapan yang menciptakan kebiadaban yang parah lagi panjang di belahan dunia lainnya. Jan Peterszoon Coen yang serakah dan Paul Kruger yang rasis lahir dari rahim bangsa ini.

Sepakbola Belanda, menurut hemat saya, juga memiliki dua sisi yang kontradiktif dalam dirinya. Kepala mereka saya yakin dihuni oleh Erasmus atau Spinoza, sementara di kaki-kaki mereka ada tangan-tangan Rembrant dan Van Gogh. Tak heran, selama mereka mau, Belanda tak akan pernah kehabisan pemikir di bangku cadangan dan seniman bola di tengah lapangan. Lihat, mereka tak hanya melahirkan Total Football dan Akademi Ajax Amsterdam, tapi juga Cruijff, van Basten, Gullit, Rijkaard, Bergkamp, hingga yang terakhir Sneijder. Tapi, diam-diam, di balik punggung mereka, rupanya menggelayut arwah-arwah penasaran punya Coen dan Kruger. Sisi yang terakhir ini tak berapa sering tampak, namun sekali mereka muncul, kesebelasan Belanda akan jadi sekelompok monster yang menyeramkan, tak ubahnya Coen bagi orang Jawa dan Kruger bagi warga kulit hitam. Mau tahu kapan sisi mengerikan ini muncul? Catat: 1) arogansi menjijikkan sekelompok pemain di bawah komando Basten melawan pelatih mereka yang tak dikenal, Thijs Libregts, sepanjang kualifikasi PD 90, 2) “perang” antarbekas penjajah melawan Portugal pada perempat final PD ‘06 di Nuremberg yang melahirkan berbagai rekor buruk dalam hal kedisiplinan, 3) partai final melawan Spanyol di Johannesburg pada PD ’10 yang melahirkan rekor buruk berikutnya.

Ya, di South Africa 2010, terutama di partai puncak, sisi buruk itulah yang dimunculkan Belanda. Dikenal sebagai pemegang salah satu pusaka paling berharga dari sepakbola bernama Total Football, Belanda justru tampil di Afsel seperti sederetan meriam VOC yang kaku, dingin, dan efektif. Bert van Marwijk, pelatih yang perawakannya tak mengesankan itu, memperlakukan kesebelasan asuhannya seperti Peterszoon Coen memperlakukan Hindia Belanda. Jika Coen bisa melakukan apa pun demi mengapalkan pulang emas dan rempah, van Marwijk menempuh segala cara untuk membawa pulang piala. Maka, hanya sedikit beda dengan Coen yang memakai tai untuk mengalahkan Sultan Agung, van Marwijk “tega” mengubah menantunya, Mark van Bommel, yang di tangan Van Gaal di Bayern Munchen begitu elegan, menjadi seorang tukang jagal yang sangar dengan ekspresi yang begitu datar. “Ini memang bukan gaya kami, tetapi Anda bermain untuk menang,” demikian kata van Marwijk kepada media.

Belanda sangat jelas bisa menang dengan main bagus, sebagaimana sejarah sepakbola mencatatnya. Tapi, van Marwijk hanya membutuhkan kemenangan dan mengabaikan yang lain. Jangan tercengang, jika hanya itu yang didapatnya saat menghadapi Denmark, Jepang, Kamerun, Slovakia, dan Uruguay. Maka, sembari berpikir kalau tim mana pun bisa saja segrusa-grusu Jepang, seragu Slovakia, dan seapes Uruguay, dengan cara yang bukan gaya mereka itu pula mereka menghadapi Spanyol di final. (Marwijk, mungkin sama sekali tak ingat, atau bisa saja sengaja abai, kalau mereka bisa mengalahkan Brazil di perempat final justru saat bermain bola dengan gaya mereka yang sebenarnya, paling tidak pada babak kedua.)

Meski para pemain Spanyol lebih suka mengumpan daripada mencetak gol, jelas mereka sama sekali berbeda dengan tim-tim yang dihadapi Belanda sebelumnya. Mereka, seperti kata banyak orang, adalah Brazil yang dilengkapi dengan kesabaran, minus kekeraskepalaan Dunga. Saat masuk lapangan di Soccer City sore itu, mereka masih mengenakan mahkota Eropa, dan sedang sangat ingin mendapatkan yang berikutnya. Itu yang jelas tidak dimiliki tim macam Slovakia, atau bahkan Uruguay—yang targetnya telah terlampaui. Maka, alih-alih Iniesta, Xavi, Pedro, dan Alonso yang menderita karena tebasan dan terjangan van Bommel dan De Jong, justru para striker dan gelandang serang Belanda-lah yang sepi dari umpan. Dan, alhasil, kita melihat penyerang-penyerang hebat macam Robben, Kuyt, dan van Persie malih rupa menjadi tukang tekel yang—sayangnya—buruk.

Ketika hanya jadi juru jegal di sepanjang 90 menit, para penyerang Belanda tak bisa melakukan pekerjaan mereka yang sebenarnya ketika kesempatan itu datang. Pada perpanjangan waktu, Robben yang biasanya melewati 4-5 pemain belakang, dua kali tak berdaya saat berhadapan satu lawan satu dengan Casillas. Mendapati dirinya gagal, Robben bukannya bangkit dan siap menciptakan peluang berikutnya, tapi mengejar-ngejar wasit Howard Webb. Ya, Webb memang dari Inggris, tapi dia bukan wakil kerajaan Inggris abad ke-19 yang dengan senang hati memberikan kembali Hindia kepada Belanda setelah yang belakang disebut ini lepas dari penjajahan tetangganya, Prancis.

Menyusul kartu kuning kedua untuk Heitinga, sebiji gol Andres Iniesta pada menit ke-116, yang bisa saja diperdebatkan keabsahannya, menentukan siapa yang juara.

Robben dan Sneijder menangis sesenggukan, begitu pertandingan kelar dan telah jelas siapa yang merengkuh gelar. Itu amat wajar. Tapi saran saya (jika saja bisa), segera hapus air mati itu Arjen, Wesley, sebab kalian adalah dua pemain hebat yang selamat dari menjadi bagian dari sebuah tim yang memenangkan Piala Dunia dengan cara terburuk yang pernah dilakukan. Van Bommel tampak amat marah dan langsung merangsek ke wasit Webb, begitu sang wasit meniup peluit panjang terakhirnya. Ya, ia memang sepantasnya marah. Boleh kepada wasit, tapi semestinya ia harus lebih marah kepada dirinya sendiri dan mertuanya. Sebab, sepanjang pertandingan, ia jauh lebih berusaha untuk menyakiti Iniesta dibanding berusaha untuk memenangkan pertandingan. Di sisi lain, hanya van Marwijk-lah yang patut disalahkah atas tampilan Belanda yang begitu menjengkelkan dan sekaligus tetap saja gagal. Untuk pendukung Belanda, bersyukurlah. Sebab, dengan cara main yang seperti itu, tim kalian melangkah lebih jauh dibanding Prancis, Italia, dan Inggris.

“Jika Belanda juara, akan buruk bagi sepakbola...,” demikian kata Alan Hansen, mantan pemain Liverpool. Kata saya, jika Belanda juara, akan jauh lebih buruk akibatnya bagi sepakbola Belanda sendiri. Gelar juara itu tak hanya akan menodai Total Football yang, seperti kata Cruijff, keindahannya akan selalu dikenang itu. Gelar itu juga amat mungkin akan menjadikan kesebelasan Belanda dikenang oleh pencinta sepakbola seperti kenangan orang Jawa atas kemenangan Peterszoon Coen atas Mataram dan kenangan para budak Melayu dan Afrika atas kemenangan Paul Kruger pada Perang Boer.

Saya tak turut bahagia dengan gelar Spanyol, tim juara yang cuma bisa mencetak 8 gol itu. Namun, saya gembira dengan gagalnya Belanda, finalis yang mengemas 25 kartu kuning dalam 7 gim.

Oleh Owen A. McBall
Setelah Lampu-lampu Dipadamkan

Wednesday, July 14, 2010 at 6:15pm
Olympiastadion Muenchen, Jerman Barat, 7 Juli 1974.

Lampu-lampu stadion sudah dipadamkan. Orang-orang beranjak pulang. Kini yang tersisah adalah keheningan, juga kenangan. Di partai final, Belanda kalah 1-2 dari Jerman Barat. Kekalahan yang sangat menyakitkan, mengingat Belanda unggul lebih dulu lewat gol Johan Nesskens.

Lalu, Johann Cruyff menukil Injil: Jika Tuhan tidak mengizinkan saya memperoleh Juara Dunia di Muenchen, mungkin satu saat kami akan memperolehnya di tempat lain. Jika Dia menginginkan, maka terjadilah itu.

Tak ada yang salah dalam kalimat itu, tentu saja. Cruyff bukan seorang pastor, bukan pula seorang penginjil. Dia adalah seorang petarung serta seniman sepak bola, di mana kata loyalitas dan totalitas melekat erat dalam dirinya. Dia pemain terbaik Eropa tiga kali, 1971, 1973, dan 1974. Jelang laga di Olympiastdion dihelat, jutaan rakyat Belanda menitipkan asa di kaki dan kepala Cruyff. Tapi apa boleh buat, panggang masih jauh dari api. Maka, tatkala Belanda digebuk Jerman Barat, Cruyff tak banyak bicara. Dia memilih diam kemudian menukil Injil.

Empat tahun berselang, tepatnya 25 Juni 1978, Belanda kembali gagal. Kali ini, De Oranje menyerah 1-3 dari tuan rumah Argentina. Zonder Cruyff, pemain Belanda meninggalkan Stadion Rival Plate, Buenos Aires, dengan masygul.

Dua final, dua kekalahan, dua erangan, dua tangisan. Belanda hamil tua. Penantian panjang, kapankah berakhir?

Waktu terus bergerak, merangsek ke depan: Stadion Soccer City, Johannesburg, Afrika Selatan, 11 Juli 2010.

Bert van Marwijk, dengan syal melilit di leher, memimpin pasukannya masuk ke stadion dengan semangat pepatah lawas, bloeden als een rund. Ya! Arjen Robben cs siap bertarung laiknya segerombolan sapi jantan, bahkan kalau perlu, sampai berdarah-darah.

Peluit dibunyikan. Laga dua raksasa sepak bola Eropa yang sama-sama memendam hasrat itu pun berlangsung panjang, juga berliku-liku. Saling serang, jual beli ancaman. Belanda, dengan bayang-bayang kegagalan 1974 dan 1978, memburu mimpi baru. Tak kenal lelah, maju pantang mundur. Spanyol tak kalah garang. Mengikuti gerakan tangan pelatih Vicente Del Bosque dari tepi lapangan, Juara Eropa 2008 tersebut tampil luar biasa bak torero. Benarlah kata Franz Kafka, novelis Jerman: Setiap detik hidup adalah final.

Disaat Robben cs bertarung, dari detik ke detik, dari menit ke menit, rakyat Belanda pun mengingat Cruyff. "Jika Dia menginginkan, maka terjadilah itu". Yang terjadi justru sebaliknya, Belanda kalah di ujung laga. Andres Iniesta kembali mengubur mimpi Belanda lewat tendangan kaki kanan yang tak mampu diantisipasi kiper Maarten Stekelenburg. Ke manakah Tuhan? Adakah Dia memalingkan wajah-Nya dari anak-anak Belanda itu? Kalau tidak, kenapa gol tak jua tercipta, bahkan ketika Robben berhadapan satu lawan satu dengan Iker Casillas, kiper Spanyol? Atau, kenapa Tuhan membiarkan jutaan orang berpihak kepada Paul gurita, jauh sebelum laga dihelat?

Biarlah segepok pertanyaan dilemparkan, biarlah air mata terus mengalir. Kekalahan memang menyakitkan, meski beberapa tahun lalu mantan mentor timnas Belanda Louis Van Gaal pernah mengutip novelis cemerlang Rusia Boris Leonidovich Pasternak: Kemenangan dan kekalahan adalah dua hal yang tak dapat dibandingkan. Van Gaal mengacu kepada Piala Dunia 1974. Kata Van Gaal, Belanda patut bangga lantaran dunia memuji totaalvoetball-nya, meski akhirnya menyerah di tangan Jerman Barat.

Belanda memang kalah, dan mereka tak akan meratapinya berlama-lama. Sepak bola tak melulu soal taktik pun teknik, tapi juga sesuatu yang transendental, sesuatu yang di luar nalar. Tatkala ini tersuguhkan secara ekstrem, kita kontan geleng-geleng kepala tak percaya. Kita tak habis pikir dengan Prancis, Inggris, Italia, dan Brasil. Prancis dan Italia terkapar di babak penyisihan. Inggris yang tampil perkasa di babak kualifikasi tak bisa berbuat banyak dan hanya puas sampai babak 16 besar. Brasil tak jauh beda. Digadang-gadang bakal juara, Selecao tumbang dihajar Belanda 2-1 di babak delapan besar.

Stadion Soccer City, Johannesburg, Afrika Selatan, 11 Juli 2010.

Lampu-lampu stadion sudah dipadamkan. Orang-orang beranjak pulang. Kini yang tersisah adalah keheningan, juga kenangan.

Surat untuk Presiden Yudhoyono

Surat untuk Presiden Yudhoyono
Sunday, July 11, 2010 at 12:44pm


Belanda masih bertahan, Brasil harus pergi, dan Ghana, yang menjadi satu-satu harapan Afrika, telah pulang meninggalkan rumahnya sendiri.

Yang terhormat Bapak Presiden ...

Saya tulis surat ini bukan untuk mengupas kehebatan Wesley Sneijder yang menjadi pahlawan Belanda, bukan Julio Cesar yang meratapi kegagalan Brasil, dan bukan pula mengungkapkan kesedihan Asamoah Gyan yang gagal merobek gawang Uruguay dalam satu kesempatan penalti. Tapi surat ini untuk menjawab kegelisahan masyarakat sepak bola Indonesia, sekaligus menjawab pertanyaan Presiden, karena sepak bola bukan lagi sekadar menang-kalah.

Di Afrika, ketika Piala Dunia 2010 memasuki babak semifinal, sepak bola kini tidak hanya tersimpan di hati Maradona, tapi sudah menjadi milik siapa pun dan bisa melibatkan siapa pun, termasuk kepala negara. Ini terbukti setelah Nigeria, Prancis, dan Inggris harus pulang lebih cepat dari Afrika.

Bapak Presiden ...

Presiden Nigeria Goodluck Ebele Jonathan tak mampu memendam kekecewaan dan seketika membekukan aktivitas tim nasional Nigeria: untuk sementara tak terlibat dalam sepak bola internasional selama dua tahun, meski sikap ini memuncalkan pertentangan di markas FIFA. Masyarakat Prancis sangat marah dan meminta Jean Pierre Esacalettes, Presiden Federasi Sepak Bola Prancis (FFF), segera meninggalkan kursinya. Atau pers Inggris yang mencemooh pasukan The Three Lions dan berharap Fabio Capello--sang arsitek berdarah Italia yang pernah membawa AC Milan ke Indonesia pada 1995--segera hengkang dari London.

Sangat beralasan jika ada keinginan Indonesia bisa tampil di Piala Dunia. Saya pun membayangkan kelak mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berada di bangku VIP bersama para kepala negara lain, seperti Bill Clinton, mantan Presiden Amerika Serikat, yang menyaksikan partai Amerika melawan Ghana di Stadion Royal Bafokeng, Minggu, 27 Juni, lalu. Dan, saya ingin menjawab obsesi itu ketika Bapak SBY bertanya kapan kira-kira PSSI (tim nasional) masuk Piala Dunia dalam kesempatan nonton bareng partai pembuka antara Afrika Selatan dan Meksiko di Ballroom Puri Kencana Hotel Intercontinental, Bali, 11 Juni lalu.

Bapak Presiden ...

Tentu saja kita tak memulai dari siapa yang memimpin Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia untuk mewujudkan keinginan itu. Jika ada pertanyaan siapa yang pantas memimpin organisasi sepak bola nasional kita, yang pasti dia harus kompeten. Boleh saja dia berbaju biru, asal bukan mantan narapidana. Dia harus cerdas dan mampu menjadi manajer yang baik. Tapi kecerdasan dan kebaikan itu tak lantas dia leluasa menjadikan PSSI sebagai sarang mafia dan tidak membentuk para pengurusnya berperilaku bak preman.

Sesungguhnya sepak bola Indonesia membutuhkan perubahan. Ini merupakan dasar argumentasi untuk menjawab rasa keprihatinan, yang sebenarnya merupakan gambaran umum kekecewaan masyarakat setelah melihat karut marut pengelolaan sepak bola Indonesia dan prestasi tim nasional yang semakin tak menentu. Saya senang ketika Bapak merespons kekecewaan itu dengan menggagas Kongres Sepak Bola Nasional, akhir Maret lalu, meski pada akhirnya "Rekomendasi Malang" tak akan pernah dipatuhi.

Bapak Presiden ...

Ada beberapa masalah yang mejadi inti dari karut marut pengelolaan sepak bola di Indonesia. Yang utama adalah kegagalan mengelola kompetisi secara profesional dan berorientasi pada pembinaan, prestasi, dan keuntungan.

Pengelolaan kompetisi sepak bola Indonesia kurang maksimal karena tidak digarap secara profesional. Kondisi ini disebabkan masih kuatnya campur tangan birokrasi dalam pengelolaan klub dan masih banyak klub bergantung pada dana anggaran pendapatan dan belanja daerah. Sehingga klub-klub tersebut tidak mempunyai orientasi bisnis (profit oriented) yang jelas.

Padahal, seharusnya, dari segi pengelolaan dan bisnis, kompetisi sepak bola di Indonesia sudah setara, bahkan berada di atas kompetisi J-League Jepang dan A-League Australia karena Indonesia mempunyai potensi bisnis yang jauh lebih besar dibanding dengan dua negara tersebut. Potensi itu bisa dilihat pada kenyataan bahwa sepak bola adalah olahraga paling digemari di Indonesia, jumlah penonton yang datang langsung ke stadion rata-rata sekitar 11.158 orang tiap pertandingan (per April 2010), dan rating siaran langsung Liga Super di televisi juga tinggi dibanding tontonan lain.

Kegagalan pengeloaan kompetisi juga bisa dilihat pada banyak kerusuhan yang melibatkan pemain, ofisial, dan penonton di sepak bola Indonesia, indikasi pengaturan skor, sering terganggunya jadwal kompetisi, sengketa pemain dan klub soal kontrak. Secara umum disimpulkan bahwa kompetisi sepak bola Indonesia, meski punya potensi bisnis yang luar biasa, masih jauh dari profesional.

Untuk mengurai benang kusut persepakbolaan nasional sangat dibutuhkan solusi yang cerdas. Percepatan pembentukan kompetisi profesional melalui penghentian dana anggaran pendapatan dan belanja daerah dan memaksimalkan sumber-sumber kompetisi agar kompetisi mempunyai nilai bisnis tinggi sekaligus berorientasi pada pembinaan dan prestasi bisa menjadi jalan ke arah perbaikan itu. Solusi lain adalah peningkatan pembinaan pemain usia dini dan muda secara serius, terintegrasi, serta berkesinambungan. Dan yang lebih penting adalah perombakan pengurus dalam organisasi PSSI agar manajemen dan pengelolaan sepak bola di Indonesia dijalankan dengan benar, jujur, dan efektif.

Bapak Presiden ...

Saya dan teman-teman yang sangat menginginkan perubahan itu telah membuat kajian organisasi, prestasi, pembinaan, dan kompetisi sepak bola Indonesia (jika ada kesempatan nonton bareng di Cikeas, kami akan menyerahkan kajian ini kepada Bapak). Selain itu, kami telah membuat tahapan-tahapan yang harus kita tempuh, termasuk menyarankan Bapak mengundang Sepp Blatter, Presiden FIFA, ke Indonesia atau mengutus Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alifian Mallarangeng menemui orang yang paling berpengaruh dalam sepak bola dunia, termasuk mengubah wajah sepak bola kita.


Yon Moeis
(versi edit dan penambahan materi, tulisan ini dimuat di Koran Tempo, Minggu, 4 Juli 2010)