iklan

Wednesday, November 16, 2011

Makna Keriput Di Kening Ayah

Suatu ketika tanpa sengaja, seorang gadis kecil melihat Ayahnya tengah mengusap-usap wajahnya sendiri yg nampak mulai keriput dengan badannya yg mulai sedikit bongkok, disertai dengan suara batuk yg begitu parau.

Gadis kecil itu lalu memberanikan diri untuk bertanya,

"Ayah... kenapa wajah Ayah kian hari kian keriput dengan badan yg kian membungkuk ?"

Sang ayah yg sedang beristirahat di beranda rumahpun lalu menjawab singkat,

"Sebab Ayahmu ini laki-laki, Nduk..."

Gadis kecil itu nampak bingung dan berguman dalam sendirinya,

"Saya ndak ngerti apa yg Ayah maksud...???"

Dengan kening berkerut, ia nampak termenung dalam kebingungannya. Namun Ayahnya hanya tersenyum sambil membelai rambut anaknya itu, lalu menepuk-nepuk pundaknya, kemudian berkata,

"Anakku, memang belum saatnya kamu mengerti banyak tentang lelaki..."

Demikianlah bisik sang Ayah, yg justru malah membuatnya semakin bingung.
Karena perasaan ingin tahunya yg cukup besar, gadis kecil itu lalu menghampiri Ibunya dan bertanya,

"Ibu, kenapa wajah Ayah jadi keriput dan badannya kian hari kian membungkuk ? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit ?"

Ibunya pun menjawab,

"Anakku... jika seorang lelaki benar-benar bertanggung-jawab terhadap keluarganya, ya memang akan seperti itu nantinya..."

Hanya itu jawaban Ibunya. Gadis itupun semakin mengerutkan keningnya. Ia masih belum mengerti, apa maksud dari jawaban Ibunya tadi.

Haripun berganti dan waktu kian berlalu... sekarang gadis kecil itu sudah besar dan menjadi dewasa, tetapi dia tetap masih bingung juga, mencari-cari jawaban, kenapa wajah ayahnya yg dulu tampan, sekarang jadi keriput dan badannya kian membungkuk?
Hingga pada suatu malam, dia bermimpi di satu tidurnya.
Dalam mimpinya itu seolah dia mendengar suara yg sangat lembut, namun jelas sekali kata-katanya, yg ternyata itu adalah suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban atas kebingungannya selama ini.

"Saat Aku menciptakan seorang lelaki... Aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga. Dia senantiasa akan berusaha untuk menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindungi"

"Ku ciptakan untuknya bahu yg kuat dan berotot agar mampu membanting-tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya"

"Ku berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yg berasal dari tetesan keringatnya sendiri yg halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walau terkadang seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya"

"Ku berikan keperkasaan dan mental baja yg akan membuat dirinya pantang menyerah. Demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari. Demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan karena tersiram air hujan dan dihembus angin malam. Dia relakan tenaga perkasanya dicurahkan demi keluarganya. Dan yg selalu dia ingat adalah di saat semua anggota keluarga menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya"

"Ku berikan kesabaran, ketekunan serta kesungguhan, yg akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya, keletihan dan kesakitan kerapkali menyerangnya"

"Ku berikan perasaan ulet dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, dalam suasana dan situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya.
Padahal perasaannya itu pulalah yg telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yg memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama saudara"

"Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengertian dan kesadaran terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang, walaupun seringkali ditentang bahkan dikotak-katikkan oleh anak-anaknya"

"Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan, bahwa istri yg baik adalah istri yg setia terhadap suaminya. Istri yg baik adalah istri yg senantiasa menemani, dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yg diberikan kepada istrinya, agar tetap berdiri, bertahan, sepadan dan saling melengkapi serta saling menyayangi"

"Ku berikan keriput diwajahnya agar menjadi bukti, bahwa lelaki itu senantiasa berusaha sekuat daya fikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya dapat hidup dalam keluarga bahagia. Dan Ku jadikan badannya kian bongkok agar dapat membuktikan, bahwa sebagai lelaki yg bertanggung-jawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, kesungguhannya demi kelanjutan hidup keluarganya"

"Ku berikan kepada lelaki tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yg dimilikinya, walaupun sebenarnya tanggung-jawab ini adalah amanah di dunia dan juga di akhirat nanti"



Tersentaklah gadis itu dan terbangun dari tidurnya. Segera dia berlari, berlutut dan berdoa hingga menjelang subuh, setelah itu dia hampiri peraduan ayahnya. Ia dapati sang Ayah sedang bersujud dan barulah ketika ayahnya berdiri gadis itu menggenggam dan mencium telapak tangan ayahnya.

"Ampuni anakmu ini Ayah...
Sungguh aku bisa ikut merasakan betapa berat bebanmu selama ini...."


PS :
Sahabatku semua... jika saat ini Ayah kalian masih bisa menemani menjalani hidup ini, jangan pernah kalian sia-siakan kesempatan untuk membuat hatinya merasa tersanjung bahagia.

Tapi bila Ayah kalian telah tiada, jangan putuskan tali silaturahmi yg telah dirintisnya, doakanlah agar Allah selalu
menjaganya dengan sebaik-baiknya, Amin."


Kisah Nyata : Perjuangan Cinta Seorang Istri Sejati

PS :

Buat kalian para Suami, para Istri maupun para calon suami istri, perlu kalian tau bahwa ini adalah satu kisah 'tragis' dalam kehidupan berumah-tangga. Saya yakin kalian nanti pasti akan menyesal dan terpaksa membaca ulang dari awal jika melewatkan satu kalimat saja dalam kisah yg saya tulis ini.

Semuanya berawal dari sebuah rumah mewah di pinggiran desa, yg mana hiduplah disana sepasang suami istri, sebut saja Pak Andre dan Bu Rina.
Pak Andre adalah anak tunggal keturunan orang terpandang di desa itu, sedangkan Bu Rina adalah anak orang biasa. Namun demikian kedua orang tua Pak Andre, sangat menyayangi menantu satu-satunya itu. Karena selain rajin, patuh dan taat beribadah, Bu Rina juga sudah tidak punya saudara dan orang tua lagi. Mereka semua menjadi salah satu korban gempa beberapa tahun yg lalu.

Sekilas orang memandang, mereka adalah pasangan yg sangat harmonis. Para tetangganya pun tahu bagaimana mereka dulu merintis usaha dari kecil untuk mencapai kehidupan mapan seperti sekarang ini. Sayangnya, pasangan itu belum lengkap.
Dalam kurun waktu sepuluh tahun usia pernikahannya, mereka belum juga dikaruniai seorang anakpun. Akibatnya Pak Andre putus asa hingga walau masih sangat cinta, dia berniat untuk menceraikan sang istri, yg dianggabnya tidak mampu memberikan keturunan sebagai penerus generasi. Setelah melalui perdebatan sengit, dengan sangat sedih dan duka yg mendalam, akhirnya Bu Rina pun menyerah pada keputusan suaminya untuk tetap bercerai.

Sambil menahan perasaan yg tidak menentu, suami istri itupun menyampaikan rencana perceraian tersebut kepada orang tuanya. Orang tuanya pun menentang keras, sangat tidak setuju, tapi tampaknya keputusan Pak Andre sudah bulat. Dia tetap akan menceraikan Bu Rina.

Setelah berdebat cukup lama dan alot, akhirnya dengan berat hati kedua orang tua itu menyetujui perceraian tersebut dengan satu syarat, yaitu agar perceraian itu juga diselenggarakan dalam sebuah pesta yg sama besar seperti besarnya pesta saat mereka menikah dulu.
Karena tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, maka persyaratan itu pun disetujui.

Beberapa hari kemudian, pesta diselenggarakan. Saya berani sumpah bahwa itu adalah sebuah pesta yg sangat tidak membahagiakan bagi siapapun yg hadir. Pak Andre nampak tertekan, stres dan terus menenggak minuman beralkohol sampai mabuk dan sempoyongan. Sementara Bu Rina tampak terus melamun dan sesekali mengusap air mata nelangsa di pipinya.
Di sela mabuknya itu tiba-tiba Pak Andre berdiri tegap dan berkata lantang,

"Istriku, saat kamu pergi nanti... ambil saja dan bawalah serta semua barang berharga atau apapun itu yg kamu suka dan kamu sayangi selama ini..!"


Setelah berkata demikian, tak lama kemudian ia semakin mabuk dan akhirnya tak sadarkan diri.

Keesokan harinya, seusai pesta, Pak Andre terbangun dengan kepala yg masih berdenyut-denyut berat. Dia merasa asing dengan keadaan disekelilingnya, tak banyak yg dikenalnya kecuali satu. Rina istrinya, yg masih sangat ia cintai, sosok yg selama bertahun-tahun ini menemani hidupnya.
Maka, dia pun lalu bertanya,

"Ada dimakah aku..? Sepertinya ini bukan kamar kita..? Apakah aku masih mabuk dan bermimpi..? Tolong jelaskan..."

Bu Rina pun lalu menatap suaminya penuh cinta, dan dengan mata berkaca dia menjawab,

"Suamiku... ini dirumah peninggalan orang tuaku, dan mereka itu para tetangga. Kemaren kamu bilang di depan semua orang bahwa aku boleh membawa apa saja yg aku mau dan aku sayangi. Dan perlu kamu tahu, di dunia ini tidak ada satu barangpun yg berharga dan aku cintai dengan sepenuh hati kecuali kamu. Karena itulah kamu sekarang kubawa serta kemanapun aku pergi. Ingat, kamu sudah berjanji dalam pesta itu..!"


Dengan perasaan terkejut setelah tertegun sejenak dan sesaat tersadar, Pak Andre pun lalu bangun dan kemudian memeluk istrinya erat dan cukup lama sambil terdiam. Bu Rina pun hanya bisa pasrah tanpa mampu membalas pelukannya. Ia biarkan kedua tangannya tetap lemas, lurus sejajar dengan tubuh kurusnya.

"Maafkan aku istriku, aku sungguh bodoh dan tidak menyadari bahwa ternyata sebegitu dalamnya cintamu buat aku. Sehingga walau aku telah menyakitimu dan berniat menceraikanmu sekalipun, kamu masih tetap mau membawa serta diriku bersamamu dalam keadaan apapun..."


Kedua suami istri itupun akhirnya ikhlas berpelukan dan saling bertangisan melampiaskan penyesalannya masing-masing. Mereka akhirnya mengikat janji (lagi) berdua untuk tetap saling mencintai hingga ajal memisahkannya.
Yup... till death do apart..! Subhanallah...#.#.#



Tahukah kalian, apa yg dapat kita pelajari dari kisah di atas?
Kalau menurut Kang Sugeng sih begini, tujuan utama dari sebuah pernikahan itu bukan hanya untuk menghasilkan keturunan, meski diakui mendapatkan buah hati itu adalah dambaan setiap pasangan suami istri, tapi sebenarnya masih banyak hal-hal lain yg juga perlu diselami dalam hidup berumah-tangga.
Untuk itu rasanya kita perlu menyegarkan kembali tujuan kita dalam menikah yaitu peneguhan janji sepasang suami istri untuk saling mencintai, saling menjaga baik dalam keadaan suka maupun duka. Melalui kesadaran tersebut, apapun kondisi rumah tangga yg kita jalani akan menemukan suatu solusi. Sebab proses menemukan solusi dengan berlandaskan kasih sayang ketika menghadapi sebuah masalah, sebenarnya merupakan salah satu kunci keharmonisan rumah tangga kita.

"Harta dalam rumah tangga itu bukanlah terletak dari banyaknya tumpukan materi yg dimiliki, namun dari rasa kasih sayang dan cinta pasangan suami istri yg terdapat dalam keluarga tersebut. Maka jagalah harta keluarga yg sangat berharga itu..!"


Wednesday, July 13, 2011

Jenjang Karier dan Prestasi Kerja

Dalam halaman ini saya akan membahas dari sepengetahuan saya saja, dari yang saya lihat setiap saat. Bukan berdasar penelitian yang mendalam, ini hanya asumsi saya.
Saya memberi contoh jenjang karir itu dalam sebuah bus yang di awaki oleh sopir, kondektur dan kernet atau kenek. Seorang sopir saya ibaratkan dengan seorang direktur sebuah perusahaan, seorang kondektur saya ibaratkan sebagai bagian keuangan dalam suatu perusahaan, dan seorang kernet sebagai pembantu umum untuk keduanya, semuanya harus saling membantu dan saling mengontrol satu sama lainnya. Saya menemukan hal yang unik dari perjalanan saya setiap saya keluar kota dengan menggunakan bus.
Seseorang dalam sebuah bus mengawali karir dengan menjadi sebuah kernet, saya asumsikan kernet karena saya tahu bahwa kernet adalah seperti karyawan biasa yang hanya menerima upah kecil dan tugas yang tidak terlalu berat, tugasnya hanya membantu penumpang menaikkan barangnya, lalu mencari penumpang. Selain itu dia juga harus berani dalam mencarikan jalan apabila sang sopir ingin mendahului sebuah kendaraan, pasti anda tahu maksud saya (ini hanya untuk bus-bus yang kejar setoran dan ugal-ugalan) maka dari sini saya busa simpulkan bahwa kernet adalah jenjang karir awal dalam sebuah perusahaan atau posisi awal saat masuk kerja. Dia menjadi bawahan dari sopir dan kondektur dalam bekerja. Sedangkan kondektur, saya asumsikan sebagai bagian keuangan dalam sebuah perusaahaan, perusahaan yang baik dan sehat harus memiliki keuangan yang baik, baik dalam hal cash flow, investasi maupun pendanaan agar tetap bertahan dalam menjalankan operasional perusahaan, seorang kondektur di haruskan memiliki ketelitian dalam menghitung semua penumpang yang berdiri maupun yang duduk, menghitung tarif yang sesuai dengan jarak yang di tempuh oleh seorang penumpang. Kadang dia juga membantu kernet mencari penumpang jika keadaan sedang sepi penumpang. Layaknya bagian keuangan perusahaan dia juga menghitung seluruh biaya biaya yang ada, setoran kepada pemilik bus, biaya solar, biaya makan dan minum, biaya buat makelar penumpang di setiap halte bus (yang illegal maupun legal), retribusi atas masuk terminal-terminal d setiap kota, biaya tol, dan lain sebagainya. Dia hitung dengan seluruh pemasukan jika telah sesuai dengan target perusahaan maka dia laporkan kepada sopir bahwa setoran “aman”, tapi jika setoran yang harusnya di dapat belum memenuhi harapan atau bahkan minus dari yang di harapakan, sang kondektur mengisyaratkan untuk “tambah kecepatan” dalam mencari penumpang. Fenomena inilah yang kadang mengakibatkan sopir tidak fokus dan terburu-buru dan akibatnya banyak kecelakaan bus, tapi hal ini tidak akan saya bahas di bab ini. Dalam menjadi bagian keuangan dia di tuntut untuk menjadi seorang yang jujur, teliti, dan bisa berhemat dalam hal anggaran. Biasanya seseorang yang jadi kondektur dulunya adalah seorang kernet, hubungan inilah yang saya sebut sebagai jenjang karir dalam perusahaan. Seorang kernet atau bagian paling bawah jika berprestasi busa menjadi seoranng kondektur yang memiliki tanggung jawab yang lebih tinggi. Keberaniannya saat menjadi kernet berguna untuk menghadapi penumpang yang tidak mau membayar sesuai tarif, berguna saat dia bernego tarif dengan penumpang itu, berguna juga untuk melawan oknum aparat yang menarik retribusi lebih tinggi dari wajarnya, dan untuk hal-hal lainnya. Jika dia bisa berprestasi dengan misalnya setoran selalu tercukupi dia bisa di promosikan sebagai seorang sopir, seorang sopir saya asumsikan sebagai seorang direktur dari sebuah perusahaan, dialah orang yang mengontrol, mengendalikan, mengambil semua keputusan dalam sebuah bus.
Sebuah bus yang besar sangat mirip dengan sebuah perusaahaan yang besar, kita bayangkan saja menyetir sepeda ontel dengan bus pasti rasanya berbeda,(mungkin saya terlalu ekstrem membandingkannya) berbeda dalam artian bahwa dalam sepeda ontel hanya keselamatan jiwa kita saja yang harus kita jaga atau kita perhatikan, tapi di dalam bus kita juga harus menjaga keselamatan banyak orang, para penumpang itu memiliki tujuan yang berbeda, kadang ada yang ingin bersilaturahmi dengan keluarga d kampung,ingin melakukan perjalanan dinas dengan berbisnis, ingin refreshing saja dan sebagainya. Jadi secara tidak langsung sang sopir bertanggung jawab kepada seluruh penumpang dan seluruh keluarga penumpang. Tanggung jawab yang besar inilah yang membuat tidak sembarang orang bisa menempatinya. Seorang sopir harus melalui jenjang karir yang dari bawah sebagai kernet lalu meningkat menjadi kondektur. Dari pengalaman menjadi kernet dan dia mendapatkan keberanian, keberanian yang akan dipakai dalam mengambil sebuah keputusan dengan semua loss and benefitnya, lalu dia bernajak menjadi seorang kondektur, dari tahap ini ketelitian sang “calon sopir” di uji untuk melihat data-data yang tersedia di sekitarnya. Agar dia bisa mencari2 jalan yang terbaik untuk mengantisipasi dan membuat rencana ke depan bagi perusahaannya. Tidak semua berhasil menjalani jenjang karir tersebut, bahkan ada yang sampai bertahun-tahun hanya sebagai kernet saja,atau kadang sudah meningkat ke kondektur tapi seperti “kerasaan” dan tak beranjak dari posisi itu. Karena mungkin sudah bangga memegang uang banyak walaupun bukan uangnya sendiri.
Seorang sopir dibekali keterampilan mengemudi dari sopir terdahulu yang sudah mau pensiun atau akan berhenti, di sela-sela istirahat saat di garasi atau saat memarkir bus di terminal itulah saat belajar sang sopir yang awalnya hanya kernet menjadi kondektur itu. Hal ini bisa di ibaratkan seperti seorang direktur yang menularkan semua ilmunya dalam mengambil keputusan, mengembangkan visi dan misi sebuah perusahaan kepada wakil direkturnya atau kepada seseorang yang dia percaya untuk menggantikannya. Proses belajar mengemudi tidaklah instan dan bukanlah perkara mudah, butuh proses yang berkelanjutan sesuai dengan tingkatannya. Belajar mengemudinya pun harus di tes langsung oleh sopir aslinya, apakah sudah sesuai dengan tahapan-tahapan yang ditetapkan, atau standar-standar dalam mengemudi. Semua itu juga dilakukan agar dapat lancer melalui ujian Kepolisian dalam memperoleh Surat Ijin Mengemudi. Setelah bekal yang dirasa cukup, maka perlahan-lahan sang sopir lama mulai mundur dan mempercayakan semuanya pada sopir baru mantan kondektur tadi dengan tetap memantau keadaan dari jauh.
Semua proses yang ada itu bukan tanpa hasil gagal, kadang hasil gagal pun diterima, karena itu tekad untuk memilih bertahan atau maju itu yang penting, karena tidak semua sopirmu sukses, kadang ada pula yang menabrak atau melanggar lalu lintas hingga SIMnya dicabut dan tidak busa bekerja lagi. Semuanya ini saya sampaikan berdasarkan dari hasil pikiran saya sendiri, tanpa ada penelitian yang mendalam karena saya pernah bertemu seorang kernet yang akhirnya menjadi sopir bus atau dari karyawan biasa menjadi seorang direktur sebuah perusahaan.